Mengenal Seni Beladiri Silat Beksi

Mengenal Seni Beladiri Silat Beksi

Fkossmpkotajakarta.web.id – Silat Beksi merupakan salah satu seni bela diri Betawi yang merupakan perpaduan antara budaya asli Indonesia dengan budaya Tiongkok. Jika dilihat secara bahasa, “Beksi” berasal dari kata “Bek” yang berarti pertahanan dari bahasa Belanda dan “Si (Tsi) yang berarti empat dari bahasa Tiongkok.

Jadi silat Beksi maksudnya adalah pertahanan dari empat penjuru. Selain itu silat “Beksi” juga adalah singkatan yang dapat diartikan ‘berbaktilah engkau kepada seruan Ilahi” dan juga ‘berbaktilah engkau kepada sesama insan’. Ini sebagai seruan aplikasi perbuatan baik yang wajib di jalani setelah seseorang belajar Beksi.

Seni bela diri Beksi adalah merupakan ilmu bela diri yang memadukan antara seni, keindahan, ketepatan dalam mencapai sasaran, kekuatan, kecepatan serta kedinamisan dalam gerak dan olah pukul yang serta sikut yang keras.
Keseluruhan dari ilmu serta seni di atas terangkum dan tertata secara apik melalui dimensi gerak, pukulan serta sikut yang keras yang merupakan ciri khas tersendiri yang membedakan ilmu bela diri “Beksi” dengan ilmu bela diri lainnya.

Dalam ilmu beladiri Beksi terdapat berbagai macam jurus-jurus yang memiliki ciri khas tersendiri. Jurus-jurus pada BEKSI terkenal dengan pukulan serta tendangan yang keras, cepat, ringkas dan mengarah pada tempat-tempat yang mematikan pada tubuh lawan.

Pada ilmu bela diri Beksi, sebelum mempelajari jurus, murid biasanya mengikuti syarat penerimaan siswa/i yang disebut Rosulan atau Ngerosul, yaitu kegiatan atau ritual berupa tawasul disertai zikir tahlil memanjatkan doa pada Allah. Ini dimaksudkan agar dalam mempelajari seni bela diri “Beksi” diberi kemudahan, kekuatan, ketabahan dan kesabaran.

Dalam permainan jurus pada “Beksi”, ada banyak gerakan yang menghentakkan kaki ke lantai, yang disebut Gedi serta gerakan tangan yang sangat cepat. Oleh sebab itu dianjurkan untuk melotot dan tidak berkedip dalam melihat gerak lawan.

Selain gerakan pada tangan maupun kaki, pelajaran senjata tajam juga diberikan, yaitu ilmu golok. Ilmu golok pada silat Beksi terdiri dari dua jurus, yaitu jurus golok satu dan dua.

Jurus golok 1 dipecah lagi jadi jurus satu hingga jurus tujuh. Sementara jurus golok 2 dipecah menjadi dua jurus, yaitu jurus satu dan dua. Kombinasi jurus baik tangan kosong maupun golok sangat sangat penting dalam Beksi sehingga bisa tercipta berbagai jurus lagi.

Baca Juga : Lenong Jaman Dulu Dan Kini

Butuh proses, ketekunan, motivasi serta kesabaran untuk bisa mempelajari seni bela diri Beksi.

Para tokoh maupun warga asli keturunan Betawi pada zaman modern ini sedang berupaya untuk menjaga dan melestarikan budaya tradisional seperti silat Betawi. Hal-hal kebudayaan seperti Beksi ini seharusnya dapat menjadi perhatian untuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, regenerasi mutlak dalam hal ini.

Ada banyak cara untuk dapat melestarikan kebudayaan asli daerah setempat, salah satu caranya adalah dengan adanya sanggar atau tempat latihan di balai masyarakat, atau seperti di UPT Balai Latihan Kesenian.

Selain itu, seni bela diri tradisional “Silat Betawi” seperti Beksi dapat dijadikan sebagai Ekstrakulikuler di sekolah. Namun sayang seribu sayang, pihak sekolah yang dalam hal ini berada di bawah Pemprov Jakarta malah terkesan mempersulit.

Lenong Jaman Dulu Dan Kini

Lenong Jaman Dulu Dan Kini

Fkossmpkotajakarta.web.id – Bila kita pernah mendengar penggalan dialog di atas di sebuah acara televisi, di benak kita mungkin akan segera terlintas sebuah kesenian bernama Lenong yang berasal dari budaya Betawi.

Lenong dikenal sebagai drama penuh banyolan (lelucon) yang khas disertai kostum para pemain mengenakan pakaian Betawi. Dalam pementasan sesekali terselip sebuah pantun, mungkin begitulah bayangan benak kita tentang Lenong.

Ape sih Lenong entu?

Lenong merupakan pertunjukan teater tradisional yang berasal dari Betawi, yang merupakan suku asli ibu kota Jakarta. Cerita-cerita yang dimainkan dalam kesenian Lenong biasanya berisi kisah kepahlawanan, seperti Si Pitung, Jampang, ataupun cerita tentang kehidupan sehari-hari. Selama pementasan, Lenong akan diiringi dengan Gambang Kromong, yang merupakan orkes khas Betawi. Pada umumnya Lenong juga dimainkan di atas panggung sama seperti kesenian teater lainnya.

Perlu teman-teman ketahui bahwa kesenian Lenong ini muncul akibat adanya pengaruh dari budaya Tionghoa yang kira-kira muncul pada sekitar abad ke-19. Awal mulanya kesenian Lenong merupakan hasil adaptasi dari seni Gambang Kromong ke dalam bentuk teater. Tidak lama kemudian, kesenian ini berkembang menjadi sebuah kesenian tersendiri yang kemudian hari dikenal sebagai Lenong.

Keberadaan Lenong ini dimaksudkan sebagai media untuk menyampaikan pesan nilai dan moral secara langsung melalui cerita yang dimainkan oleh para pemeran pada kesenian Lenong. Hal ini karena pada kesenian lainnya seperti Tari ataupun Silat, meski memiliki pesan nilai dan moral yang baik, akan tetapi pesan-pesan sulit tersampaikan secara langsung karena tidak melalui ucapan. Meskipun begitu, Lenong tetap mengedepankan unsur hiburannya sehingga penonton lebih menikmati dan pesan yang disampaikan tersebut tidak terasa kaku.

Baca Juga : Mengenal Tanjidor Musik Tradisional Betawi

Pementasan Lenong

Terdapat beberapa hal yang membedakan Lenong dengan kesenian teater lainnnya, baik sebelum cerita mulai dimainkan maupun pada saat babak-babak cerita mulai dimainkan. Sebelum memasuki inti dari sandiwara Lenong, terdapat beberapa prosesi khusus yang dilakukan. Prosesi pertama yang dilakukan disebut sebagai ungkup. Di dalam ungkup ini biasanya berisi pembawaan doa.

Selanjutnya, pada prosesi kedua dilakukan sepik, yakni penyambutan berupa penjelasan cerita yang pada nantinya akan dimainkan. Setelah prosesi sepik selesai, baru kemudian memasuki prosesi akhir yang berfungsi untuk pengenalan masing-masing para pemain, sebelum memasuki inti cerita dari sandiwara Lenong yang kemudian benar-benar dimainkan.

Inti sandiwara cerita yang dipentaskan di panggung ini dimainkan secara babak demi babak. Selama berjalannya cerita, seringkali terselip sebuah pantun serta banyolan-banyolan (lelucon) yang menjadi ciri khas Lenong. Bahkan pantun dan banyolan tersebut menjadi sebuah trademark yang unik bagi kesenian Lenong. Selain itu, salah satu yang menjadi ciri khas Lenong adalah kebebasan untuk melakukan improvisasi di dalam dialog selama masih dalam benang merah cerita yang dimainkan karena di dalam Lenong memang sengaja tidak diciptakan naskah baku bagi pemainnya. Akibat tidak ada naskah baku, terkadang pementasan Lenong di masa lalu bisa berlangsung semalaman hingga subuh.

Lenong Denes dan Lenong Preman

Seperti yang telah diceritakan di awal tulisan, kebanyakan dari kita mengetahui bahwa Lenong menggunakan bahasa betawi sehari-hari dengan dialek berakhiran “e” seperti “ape”, “kagak lupe”, dsb. Namun, faktanya tidak semua lenong memakai bahasa sehari-hari. Hal ini menyesuaikan dengan jenis Lenong yang dimainkan.

Pada dasarnya, Lenong terbagi menjadi dua jenis, yakni Lenong Denes dan Lenong Preman, dengan fiturnya masing-masing. Pada Lenong Denes (berasal dari kata denes dalam dialek betawi yang berarti “dinas” atau “resmi”), pertunjukan yang ditampilkan lebih formal dengan latar cerita dan kostum bertemakan kerajaan, serta dibawakan dalam bahasa Melayu. Pada Lenong Preman, bahasa serta latar yang digunakan adalah bahasa dan latar kehidupan sehari-hari. Selain itu, cerita yang dibawakan juga berkenaan dengan kehidupan sehari-hari atau tentang cerita kepahlawanan seperti Si Pitung, Jampang, Mirah Macan Marunda, dsb.

Lenong Kini

Pada era modern, kesenian Lenong telah mengalami berbagai perubahan bentuk apabila dibandingkan dengan awal kemunculannya. Perubahan-perubahan tersebut dimaksudkan untuk melakukan penyesuaian dengan perkembangan zaman agar kesenian Lenong dapat bertahan di tengah gerusan globalisasi. Salah satunya adalah dengan cara memperpendek durasi cerita Lenong.

Saat ini, cerita yang dimainkan pada ksesenian Lenong berdurasi sekitar 1–3 jam, bahkan ada yang kurang dari itu. Pendeknya durasi cerita kesenian Lenong yang dimainkan saat ini juga menyesuaikan masyarakat saat ini yang hanya menonton kesenian Lenong apabila memiliki waktu senggang. Demi mengikuti selera masyarakat, Lenong Preman jauh lebih sering dimainkan bila dibandingkan dengan jenis Lenong Denes.

Lenong pun mulai diadaptasi pada beberapa acara televisi. Meski demikian, menurut pendapat Yasmine Z. Shahab yang merupakan seorang Antropolog dari Universitas Indonesia saat diwawancarai oleh Jakarta Post, ia menjelaskan bahwa sandiwara pementasan yang dimainkan dalam acara TV itu sebenarnya bukanlah Lenong karena hanya mengubah bahasa menjadi gue, elu, kenape, dsb. Bahkan, tidak jarang digunakan banyolan yang terkesan kasar sehingga seolah mencitrakan bahwa seperti itulah ciri banyolan dalam Lenong (yang tentu saja bukan).

Atas adanya acara permainan sandiwara di dalam TV yang menyebutkan memainkan kesenian Lenong dengan beberapa perubahan tersebut, Yasmine menyampaikan keberatannya, bahwa seniman Betawi seharusnya tidak mengorbankan akar dari kesenian Lenong yang hanya demi diterimanya Lenong dalam masyarakat modern. Menurut beliau, hal ini disebabkan masih banyak masyarakat yang ingin menikmati identitas asli kesenian Lenong.

Pada akhirnya, di tengah masuknya berbagai kesenian dan budaya baru akibat pengaruh globalisasi, kita sebagai pemuda-pemudi harapan bangsa diharapkan dapat berperan aktif menjaga dan melestarikan kesenian dan kebudayaan asli Indonesia. Salah satu kesenian tersebut adalah Lenong yang berasal dari Betawi. Jangan sampai identitas dan nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam Lenong (dan kesenian tradisional lainnya) hilang tergerus oleh arus globalisasi, atau dimainkan setengah hati oleh pegiat acara TV.

Mengenal Tanjidor Musik Tradisional Betawi

Mengenal Tanjidor Musik Tradisional Betawi

Fkossmpkotajakarta.web.idTanjidor merupakan salah satu kesenian musik tradisional Betawi. Musik tradisional ini mendapat pengaruh kuat dari musik Eropa seperti Belanda dan Portugis, serta musik tradisional Cina.

Saat zaman penjajahan, penghasilan seniman tanjidor berasal dari saweran penonton yang hadir di acara hajatan besar tuan tanah atau bangsawan Eropa.

Sejarawan muda Betawi JJ Rizal menjelaskan, pada tahun 1952, keberadaan tanjidor dilarang oleh Wali kota Sudiro. “Musik tradisional ini dianggap merendahkan orang pribumi, karena saweran orang Tionghoa yang berikan kepada seniman tanjidor dianggap meminta-minta,” jelasnya

Padahal, menurut Rizal, saweran tersebut bukan merendahkan. Justru sebuah apresiasi karena orang Tionghoa menganggap tanjidor sebagai sebuah rahmat yang melindungi dari segala malapetaka dan hal-hal yang buruk.

Kamu yang sudah memainkan permainan ceme online atau taruhan kartu online maka kamu tidak akan asing lagi dengan permainan ceme. Namun karena permainan ini menggunkan koneksi internet maka tidak semua bettor pemula mengerti cara login untuk permainan ini. Untuk dapat bermain ceme online, maka anda diharuskan masuk kedalam situs poker yang menyediakan permainan ceme online.

Akibat pelarangan itulah, tanjidor mulai mengalami kemerosotan. “Namun mereka masih bisa tetap bertahan meski jumlahnya berkurang. Dari ratusan grup yang ada, berkurang menjadi sekitar puluhan jumlahnya di tahun 1980-an,” ungkapnya.

Dan hingga saat ini, lanjut Rizal, jumlahnya hanya sekitar 30 grup tanjidor di Jakarta.

Ironisnya, di tengah teriak nyaring Gubernur dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang ingin menjadikan Betawi sebagai identitas kultural kota Jakarta, Rizal menilai, kenyataannya justru bertolak belakang. Ia berpendapat kepedulian Gubernur dan Pemprov DKI masih sangat kurang.

Baca Juga : Fakta Ondel Ondel Betawi Yang Kamu Belum Tahu

Ini terlihat dari eksistensi tanjidor yang mengalami krisis apresiasi dari masyarakat saat ini. Tak hanya itu, grup-grup tanjidor pun menghadapi kendala regenerasi.

“Otomatis mereka juga menghadapi kesulitan ekonomi, karena akhirnya tidak bisa lagi menjadikan tanjidor sebagai mata pencarian utamanya. Di titik inilah kemerosotan tanjidor semakin terjadi,” jelas Rizal prihatin.

Meski diakuinya masih ada generasi muda yang mau mempertahankan musik tradisional tersebut, tetapi jumlahnya masih jauh dari harapan. Karenanya Rizal berharap generasi muda yang terpanggil untuk melestarikan tanjidor dapat membuat inovasi, terobosan atau kreativitas baru agar tanjidor bisa bertahan, dan beradaptasi sesuai perkembangan zaman tanpa meninggalkan ciri khasnya.

Kreativitas ini, kata Rizal, sangat mungkin dilakukan mengingat tanjidor memang mempunyai keluwesan untuk berkolaborasi menjadi berbagai macam jenis tanji.

“Ada tanji lenong, tanji topeng (jipeng), tanji orkes (jikres), tanji dengan musik dangdut (tanjidut), tanji dengan musik Sunda maupun melayu dan masih banyak lagi,” ujarnya bersemangat.

Oleh karena itulah Rizal berharap, nantinya generasi muda dapat mengemasnya sedemikian rupa yang menarik perhatian masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang.

“Misalnya membuat tanji rock, tanji jazz atau tanji classic. Namun, musik tanjidornya yang asli harus tetap diperhatikan” tambahnya.

Dengan kolaborasi tersebut, Rizal berharap, kelak tanjidor tak hanya tampil di acara resmi seperti pernikahan dan penyambutan tamu agung, tetapi juga di acara yang lebih luas lagi seperti pesta, konser atau pertunjukan musik modern.

Fakta Ondel Ondel Betawi Yang Kamu Belum Tahu

Fakta Ondel Ondel Betawi Yang Kamu Belum Tahu

Fkossmpkotajakarta.web.id – Selain dikenal sebagai budaya khas betawi, ondel ondel juga dikenal sebagai simbol Ibu Kota DKI Jakarta. Boneka setinggi dua meter ini akrab terlihat di berbagai perayaan besar, seperti acara pernikahan, hajatan, sunatan, hingga acara peresmian atau pembukaan.

Tapi, tahukah kamu kalau ondel-ondel sesungguhnya sudah ada di Jakarta sejak abad 16? Dan tahukah kamu kalau almarhum Benyamin memiliki peran besar dalam memperkenalkan ondel-ondel? Kalau belum tahu, yuk simak asal usul ondel ondel di bawah ini.

1. Ondel-ondel masuk ke Indonesia sejak abad 16

Pengamat ondel-ondel sekaligus pemerhati budaya Betawi, Ahmad Suaip, menceritakan bahwa boneka yang kerap tampil berpasang ini pertama kali disebut dalam karya ilmiah peneliti asal Inggris.

“Ondel-ondel pertama kali muncul di Batavia pada abad ke-16. Waktu itu sebutannye beloman ondel-ondel, tapi boneka raksasa. Itu ditulis sama W Scott dalam bukunya. Dia ngeliat boneka raksasa diarak keliling kampung. Bentuknya hampir samalah kira-kira. Dari keterangan itu berarti ondel-ondel sudah ada sejak abad 16,” katanya

2. Nama awalnya adalah Barongan

Kemudian, pria yang sehari-hari disapa Davi Kemayoran ini mengisahkan, mereka yang terlahir pada era 1900-an cenderung mengenal ondel-ondel dengan istilah barongan.

“Dulu ondel-ondel namanya Barogan. Namanya barong ya biasanya serem, matanya sangar, die becaling, mukanya merah, kumisnya melintang, serem deh pokoknye,” tambahnya dengan logat Betawi yang sangat kental.

“Karena bentuknya yang serem, jadi banyak yang takut. Apalagi anak-anak,” sambung Davi.

Baca Juga : Deretan Tradisi Unik Betawi yang Raib Ditelan Zaman

3. Namanya mulai berubah sejak lagu Bang Benyamin

Nama Barongan perlahan mulai berganti sejak almarhum Benyamin merilis lagunya yang berjudul ondel-ondel. Oleh karenanya, pertama kali nama ondel-ondel muncul di Kemayoran.

“Nama ondel-ondel pertama kali muncul di Kemayoran, itu dari lagunya Bang Ben judulnye ondel-ondel. Walaupun waktu lagu itu keluar, memang berubahnya perlahan,” pangkas pria berusia 43 tahun itu.

4. Penampilan ondel-ondel perlahan diubah oleh Ali Sadikin

Mantan Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977 Ali Sadikin memiliki kontribusi besar dalam perkembangan penampilan ondel-ondel. Pasalnya, dia mengubah wajah ondel-ondel yang sebelumnya bertaring dan menyeramkan menjadi wajah yang tampak bersahabat.

“Nah pas di eranya Gubernur Ali Sadikin wajahnya diperhalus dikit-dikit, jadi udah gak serem lagi. Sekarang malah mukanya udah halus banget ye kan. Awalnya anak kecil takut, sekarang malah jadi objek selfie anak-anak kan,” tutup Davi.

Deretan Tradisi Unik Betawi yang Raib Ditelan Zaman

Deretan Tradisi Unik Betawi yang Raib Ditelan Zaman

Fkossmpkotajakarta.web.id – Masyarakat Betawi terkenal dengan ragam tradisi uniknya. Namun seiring perkembangan zaman, ragam kegiatan yang telah diwariskan para leluhur itu perlahan menjadi punah.

Menurut aktivis Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, tradisi yang raib itu menyelimuti beberapa jenis adat. Mulai dari seni hingga ritual terkait dengan sosio-kultural.

Musik sampyong merupakan musik rakyat Betawi pinggiran yang paling sederhana dibanding musik Betawi lainnya. Nama musik ini berasal dari nama salah satu alat musik, yaitu sampyong, semacam kordofan bambu berdawai dua utas.

Orkes ini selalu mengiringi tari uncul dan permainan ujungan, yakni permainan yang terdiri dari dua pasangan laki-laki yang saling memukul betis lawannya dengan tongkat rotan sepanjang 80 cm.

Kesenian musik sampyong ini telah berkembang sejak masa Kerajaan Salakanagara.

Gambang Kromong Dalem

Selain itu, kata Yahya, ada juga musik gambang kromong lagu dalam yang tinggal kenangan. Dalam jenisnya, jenis gambang kromong terbagi atas lagu dalem, lagu sayur, dan modern.

“Gambang kromong dalem itu semacam yang klasiknya. Nah kalau yang modern, kayak musik yang dibawain sama Haji Benyamin Suaeb,” jelas dia.

Lagu-lagu yang dibawakan pada musik gambang kromong merupakan lagu-lagu yang isinya bersifat humor, penuh gembira, dan kadangkala bersifat ejekan atau sindiran. Pembawaan lagunya dinyanyikan secara bergilir antara laki-laki dan perempuan sebagai lawannya.

Kesenian lainnya tak tak ditemui saat ini, yaitu seni ubrug. Seni tersebut hilang seiring minimnya sosok yang mampu menjadi lakon pertunjukan tersebut.

“Tradisi yang sudah hilang juga adalah seni ubrug. Sekarang seni pertunjukan ini sudah bermetamorfosis ke seni topeng. Udah enggak ada yang main, tapi kostumnya masih ada,” ungkap ayah satu putri ini.

Ubrug Betawi biasa tampil di berbagai tempat seperti panggung hajatan, kampung–kampung, pasar, maupun stasiun. Untuk menarik penonton, pemain ubrug Betawi biasanya membunyikan terompet, rebana biang, dan gendang di sepanjang perjalanan. Nantinya, para penonton memberikan saweran usai menikmati pertunjukan tersebut.

Dalam pagelaran itu, para lakon biasanya melontarkan banyolan khas Betawi yang mengundang tawa penonton. Humor yang dibawakan pemain seringkali bersifat kritik sosial dan sindiran terhadap seseorang atau sekelompok yang dianggap menyimpang adat kebiasaan yang berlaku.

Namun hal pokok yang ada pada teater ubrug Betawi hanyalah sebuah pertunjukan yang menghibur di mana jalur cerita adalah hal yang kurang begitu diperhitungkan.

Baca Juga : Beberapa Tempat Wisata Alam di Jakarta yang Hits

Piara Pengantin

Sedangkan dari segi adat pernikahan, Betawi memiliki tradisi yang unik. Kata Yahya, sebelum proses pernikahan digelar, calon mempelai pengantin wanita harus menjalani ritual khusus agar proses acara nantinya dapat berjalan dengan baik.

“Di pernikahan, ada yang namanya tradisi piara pengantin,” ungkap dia.

Piara pengantin itu, ucap dia, dilakukan oleh orang khusus yang dianggap memiliki keistimewaan. Dia akan melakukan perawatan sang calon pengantin dalam beberapa hari hingga acara berlangsung.

“Jadi dua minggu sebelum akad, pengantin wanita itu dirawat, dipiara,” ujar dia.

Dalam proses pingit itu, sang calon mempelai wanita akan menjalani sejumlah terapi kecantikan. Seperti lulur, memapas gigi, juga ada rambut pengantin yang dihilangkan. “Itu ada jampi-jampinya,” ujar dia.

Selain itu, ada pula pantangan yang harus ditaati selama proses pingit itu. Sang calon mempelai wanita diminta tidak mengonsumi makanan yang mengandung minyak serta tidak diperkenankan kulitnya terpapar sinar matahari pada jam tertentu.

“Ada pantangannya juga, ada. Misal enggak boleh makan makanan yang digoreng. Juga tidak boleh kena matahari pada jam tertentu, agar tidak mempengaruhi pori-pori kulit yang sudah diterapi,” ujar dia.

Setelah proses itu dijalani secara sempurna, sang pengantin wanita selanjutnya siap untuk menjalani akad nikah. Kesempatan itu menjadi momen berharga yang tak dapat dilupakan.

“Pas acaranya, pengantin itu bagaikan raja dan ratu. Baunya harum,” ujar dia.

Sebab Tradisi Raib

Menurut Yahya, banyak faktor yang menjadi penyebab hilangnya tradisi unik tersebut. Di antaranya minimnya pengenalan tradisi ini terhadap keturunan masyarakat Betawi.

“Tradisi itu diwariskan oleh para penduhulu kita secara alamiah. Biasanya kalau bapaknya tampil, anaknya ikut dan menyaksikan. Dan itu menjadi ajang transfer ilmu secara alami,” jelas Yahya.

Tak hanya itu, penyebab lain ialah kurangnya perhatian seniman Betawi terhadap kearifan lokal yang sudah lama terjaga. Mereka menjadi lupa tatkala telah menjadi publik figur.

“Ada beberapa seniman yang dimanjakan media. Seniman muda misalnya yang tenar lewat sinetron. Itu membuat mereka besar kepala,” ujar pria kelahiran 56 tahun lalu itu.

Namun begitu, dia meyakini kesenian tradisional mempunyai kemampuan dalam mempertahankan jati dirinya. Bahkan tradisi yang tenggelam itu akan kembali muncul dengan konsep yang berbeda.

“Tradisi yang sudah meninggal suatu saat muncul dengan chasing berbeda. Tapi kita tidak boleh tinggal diam melihat kondisi itu terjadi,” ucap dia.

Karena itu, dia meminta kepada masyarakat dan pemerintah daerah agar dapat memperhatikan tradisi yang ada. Jangan sampai kearifan lokal itu hilang tergerus hanya sebab tak adanya kepedulian dari semua pihak.

“Semua masyarakat Jakarta, siapa pun itu harus dikenalkan kembali tradisi itu,” pinta pria yang pernah menjadi wartawan majalah ini.