Tempat Wisata di Jakarta yang Tutup Sementara

Tempat Wisata di Jakarta yang Tutup Sementara – Semenjak pandemi banyak sekali tempat umum yang ditutup demi untuk memutus penyebaran virus covid. Beberapa tempat wisata di Jakarta juga ada yang ditutup. Berikut ini adalah datanya

Tempat Wisata di Jakarta yang Tutup Sementara

1. Ancol, Jakarta

Manajemen Taman Impian Jaya Ancol menghentikan sementara operasional kawasan wisata tersebut mulai 15-17 Mei 2021. Direktur Utama PT Taman Impian Jaya Ancol, Teuku Sahir Syahali mengatakan pihaknya ingin melakukan evaluasi kegiatan dan protokol kesehatan di kawasan rekreasi tersebut setelah sebelumnya dikunjungi puluhan ribu orang.

Informasi penutupan mereka sampaikan melalui laman akun Instagram mereka pada Sabtu (15/5). Di akun media sosialnya, pihak Ancol mengatakan pengunjung yang sudah membeli tiket untuk kunjungan pada 15 – 17 Mei 2021 dapat melakukan penjadwalan ulang kedatangan mulai 18 Mei hingga 31 Desember 2021 tanpa melakukan penjadwalan ulang.

2. Ragunan, Jakarta

Selain Ancol, penutup sementara juga dilakukan pada Taman Margasatwa Ragunan. Penutupan dilakukan mulai 16-17 Mei 2021. Penutupan ini dilakukan dalam rangka penguatan protokol kesehatan dan akan buka kembali pada hari Selasa, 18 Mei 2021.

Sementara itu, bagi pengunjung yang sudah mendaftar online untuk kunjungan pada hari minggu dibatalkan berkunjung ke Taman Margasatwa Ragunan. Pihak manajemen juga meminta maaf dengan penutupan ini dan meminta warga agar memenuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

3. TMII

Objek wisata Taman Mini Indonesia Indah juga menutup tempat wisatanya pada 16-17 Mei 2021 menyusul surat edaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pasalnya, tempat wisata tersebut mengalami peningkatan jumlah pengunjung selama libur lebaran 2021.

TMII baru akan kembali dibuka pada Selasa, 18 Mei 2021. Bagi pengunjung yang telah melakukan pembelian tiket online dapat di-reschedule sebelum tanggal 31 Mei 2021 dengan membawa bukti pemesanan tiket.

4. Semua museum dan kawasan budaya di Jakarta

Dari laman Instagram Disparekraf DKI, disebutkan bahwa semua museum dan kawasan budaya yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta tutup sementara selama 16-17 Mei 2021.

Keputusan ini diambil dari evaluasi kenaikan pengunjung selama libur Lebaran kemarin. Untuk menghindari kluster baru, maka diputuskan untuk tutup sementara.

Selain museum, ada juga pusat budaya dan 2 pulau di Kepulauan Seribu yang termasuk di dalamnya.

Baca Juga : Faktor Penyebab Banjir di Jakarta dan Sekitarnya

5. Pantai Pasir Putih PIK 2

Di Banten, ada juga Pantai Pasir Putih PIK 2 yang jadi incaran banyak pengunjung dalam kota. Terlihat padatnya jalan yang menuju ke sana pada Sabtu (15/5) kemarin.

Menanggapi hal ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang melakukan penertiban pada setiap wisata di wilayah tersebut. Dalam peraturannya, dikatakan penutupan akan berlaku mulai dari tanggal 16 sampai 30 Mei 2021 mendatang.

Sebelumnya, destinasi ini telah memberlakukan peraturan buka-tutup untuk menjaga keramaian yang kondusif di dalamnya. Namun pada akhirnya, harus ditutup sampai akhir Mei 2021.

Itulah daftar destinasi wisata di Jakarta dan sekitarnya yang harus tutup sementara demi menekan angka penularan virus corona di masa libur Lebaran 2021 ini.

1

Faktor Penyebab Banjir di Jakarta dan Sekitarnya

Faktor Penyebab Banjir di Jakarta dan Sekitarnya – Banjir merupakan tergenangnya air di suatu daerah yang biasa memiliki wilayah yang lebih rendah. Penyebab yang paling umum menyebabkan banjir adalah membuang sampah sembarangan. Banjir yang sering kali terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta biasanya memiliki beberapa faktor penyebabnya. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan banjir di kota besar

Curah Hujan Tinggi
Salah satu penyebab banjir di Jakarta dan sekitarnya yang utama adalah hujan yang ekstrem. Curah hujan tinggi pada pertengahan Januari tahun 2013, a tercatat mencapai rekor curah hujan hingga 250-300 mm, melebihi kondisi Banjir Jakarta 2002 yang mencapai 200 mm seperti yang disadur dari Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, Vol 14, No.1.

Peneliti Sains Atmosfer dengan Bidang Kepakaran Klimatologi dan Perubahan Iklim di Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Erma Yulihastin menyebutkan hujan dini hari pada 7 Juni 2020 tahun lalu, di pesisir telah dibuktikan secara statistik memiliki keterkaitan dengan hujan ekstrem yang selama ini memicu banjir-banjir besar di DKI Jakarta, seperti banjir Jakarta tahun 2002, 2004, 2007, 2008, 2013, dan 2014.

Selain curah hujan yang tinggi, penyebab banjir di Jakarta yaitu karena normalisasi kali Ciliwung yang belum tuntas. Dari total panjang kali 33 kilometer baru sekitar 16 kilometer yang dilakukan normalisasi. Rupanya kendala dari proses normalisasi ini diakibatkan oleh faktor sempitnya lahan. Pasalnya banyak rumah warga yang berada tepat di palung sungai.

Baca Juga :10 Tempat di Jakarta yang Belum Banyak Orang Tahu

Luas pemukiman di DAS Ciliwung mencapai 51% dari luas DAS, sehingga sebagian besar air hujan langsung menjadi aliran sudah di permukaan. Kondisi ini diperparah dengan letak Jakarta yang merupakan dataran rendah yang mudah terkena banjir menurut BPPTPDAS Surakarta.

Kurangnya Kawasan Resapan Air
Kurangnya Ruang Tebuka Hijau atau RTH membuat kawasan resapan air berkurang sehingga menjadi penyebab banjir di Jakarta. Tak hanya itu, pembangunan gedung dan hotel-hotel di wilayah Jakarta menyebabkan penggunaan air tanah secara berlebihan.

Banyak bagian-bagian lahan yang terletak di suatu cekungan yang rendah dan semula adalah daerah resapan atau tangkapan air hujan, sekarang ini telah berkembang menjadi daerah pemukiman yang padat, sehingga setiap kali turun hujan maka air dalam jumlah yang besar akan tergenang dan tidak dapat keluar dari daerah cekungan tersebut dilansir dari JAI Vol.7 No. 2.

Berdasarkan informasi yang berhasil didapatkan, Jakarta mengalami penurunan muka tanah sebanyak 5-12 cm per tahun. Kondisi ini membuat potensi banjir semakin besar.

Kebiasaan Buang Sampah Sembarangan
Tak bisa dipungkiri kebiasaan buang sampah sembarangan masih sangat melekat pada warga Ibu Kota dan sekitarnya. Jangan heran, banjir akan terus menyambangi Jakarta dan sekitarnya kalau kalian masih sering melakukan kebiasaan buruk ini.

Misalnya saja di daerah Manggarai, Jakarta Selatan, kebanyakan masyarakat membuang sampah di mana-mana, tidak terkecuali di saluran-saluran drainase kota, sehingga kala hujan turun dan masuk ke selokan atau jaringan sekunder drainase, menyebabkan sampah-sampah akan ikut hanyut dan masuk ke Sungai Ciliwung.

Akhirnya sampah menumpuk di pintu air Sungai Ciliwung di Manggarai seperti stereoform, plastik bekas kemasan atau pun karton-karton, dahan dan ranting. Sering kali pula terlihat batang pisang yang besar dan kasur yang jelas sengaja dibuang ke Sungai atau ke kali Ciliwung.